Senin, 01 Juli 2019

ATM yang hilang,bersama datangnya tulus senyuman

Kenapa pak ...? tanya pak polisi dari balik layar monitor,ehm...ini ATM saya hilang jawabku, sambil membetulkan kursi tempatku duduk.
Oke,ada KTP...?,tanya pak polisi yang berpakaian rapih berwarna putih,ada, jawabku sambil menyodorkan selembar KTP.

Lima belas menit kemudian jadilah selembar kertas berisi tulisan keterangan jati diri,beserta pernyataan bahwa saya benar telah kehilangan kartu ATM.

Setiba di sebuah bank swasta tukang parkir telah menyambut dengan senyuman,sambil mempersilahkan untuk ke lobil,sesampai di lobi,seorang security menyambut ramah sembari menanyakan keperluan,oh..saya mau ngurus atm yang hilang...! oke pak lanjut ke lantai atas sembari menyodorkan tiket bagian customer servis diakhiri dengan salam hormat tangan kanan menyentuh dada.
Dilantai atas kembali security menanyakan apa keperluan,setelah menayakan nama serta keperluan kemudian mempersilahkan duduk karena,sesuai no tiket aku kebagian nomer 57,sementara dilayar masih antrian no 47.
Huff...!,masih ada 10 nomer lagi batinku sambil menghempaskan diri ke sofa yang tersedia di ruang tunggu,kubuka smartphone sekedar membuang waktu,dan tak lama nomer antrian dipanggil,karena kebetulan banyak nomer yang terlewat,mungkin sudah pada pulang,atau malas mengantri.
Selamat siang,sembari kedua tangannya menyambut tanganku mengajak salaman, meski bukan sekali ini saja,entah karena masih suasana habis lebaran, atau hanya perasaan ku saja, tapi sambutan serta pelayanan customer servis kali ini terasa lebih hangat dan hommy,beberapa pertanyaan yang ramah juga senyuman tulus yang tak pernah lepas dimukanya yang cantik.

Setelah semua prosedure selesai,kartu  ATM pun jadi,kepulanganku dari bank tersebut dilepas dengan elegan dan nyaman,mulai dari sapaan serta ucapan hati hati dijalan serta selamat menjalan aktifitas kembali dan tak lupa tangan kanan menyentuh dada,semuanya berlaku sama dari customer servis,security hingga tukang parkir.

Terkadang jadi kepikiran andai saja semua instansi baik swasta atau pemerintah mempunyai standart yang sama seperti ini, alangkah lebih indah dan nyaman negeri ini.
Semoga saja bisa terlaksana,
nggak pa pa kan berharap, semoga...!

Senyum, sapardi sepanjang hari

"Senyum sapardi sepanjang Hari"

Entah dari kapan aku begini,suara suara yang kerap muncul di kepala,mengajakku tertawa,kadang memarahiku,kadang menasehatiku,berganti ganti setiap hari,membuatku bingung siapakah mereka,setia sekali menemani,bahkan sampai terbawa mimpi.

Terkadang selepas lalu aku masih ingat belaian simbok sewaktu kecil,samar samar dia membelai kepalaku sambil berbisik,"sing eling yo ngger,ojo ngamuk terus,pae karo mae yo dadi wedi,po meneh tonggo ngarep mburi,do mlayu kabeh,nek kowe ngamuk karo ngromed dewe ra' karuan.

Ya waktu itu Ayah dan simbokku Masih ada,mereka setia merawatku,memandikanku,memberi makan,bahkan tidak mau sama sekali memasungku seperti usulan warga kamapung,kata Ayahku kayak wedus aja di kerangkeng,dan di pasung,gini gini juga anak manusia,masih punya harga diri,biasanya Simbok cuma duduk ndlempes di pinggir pintu sambil matanya mbrebes mili.

Ayah sempet bawa aku kerumah sakit jiwa,sebulan disana aku dirawat,ya lumayan sembuh aku nggak pernah denger suara suara  itu lagi,begitupun setelah pulang kerumah aku terus rajin minum obat,dan bener bener sembuh,ayah simbokku, seneng sekali,aku udah bisa mandiri,ngurus sawah,ngurus kerbau,kambing,angon bebek,hingga akhirnya ketemu jodoh.

Jodoh ya jodoh,Suminah namanya,gadis dari kampung sebelah,sewaktu aku nikah hajatnya terdengar sampai  ke seluruh penjuru desa,"Sapardi bekas wong edan wis mari saiki arep kawin."
Bapak nyembelih kerbau satu,kambing tiga,pokoknya rame sekali waktu itu,sebulan setelah nikah Suminah hamil,tambah seneng aku dan keluargaku,aku makin tambah waras,bahkan konsumsi obat obatan sudah mulai dikurangi,tapi rupanya itu adalah awal dari rencana lain dari Tuhan,yang juga jadi awal bencana,usia kehamilan 4 bulan suminah pendarahan,keguguran dan tidak tertolong.

Aku benar benar limbung,bingung,sedih,marah,menjadi satu,suara suara itu muncul lagi,bahkan menjelma menjadi seseorang yang kerap kali mengikuti,seseorang itu kerap kali memprovokasi,bahwa Tuhan tidak adil,Tuhan itu jahat,dan kerap sekali menyuruhku memukul bahkan kalau perlu membunuh siapa aja yang mendekatiku,hingga pada puncaknya,aku bakar seluruh rumahku yang baru setengah jadi,aku hancurkan semuanya,sampai seluruh warga memegangiku lalu membawaku kerumah sakit jiwa,satu tahun setengah aku di rawat,sampai habis seluruh harta Bapak sama simbokku,tapi aku belum sembuh total,tapi sudah lumayan sadar,meski kadang suka perih dan sedih hati ini,jika teringat suminah istriku,dan jabang bayinya,sampai akhirnya bapak sama simbokku meninggal, aku masih suka keluyuran sendiri,meski sudah tidak ngamuk lagi.

Hanya senyum yang bisa aku lakukan,kadang tertawa bebas sambil lari lari mengejar anak anak kampung,dulu mereka suka ketakutan,tapi karena tahu aku cuma pingin bermain,lambat laun mereka tidak takut bahkan kadang suka kasih makanan,terkadang orang tuanya memberi,sebatang dua batang rokok.

Aku tidak pernah kelaparan,karena ada saja tetangga yang baik memberi makan juga rokok,jika lebaran tiba, terkadang ada beberapa teman SD ku,yang baru dari perantauan memberi rokok dan uang tanpa diminta.

Dari sekian banyak teman  SD ku hanya Sobari yang  paling kuingat,sehabis lebaran pasti dia menghampiriku ke terminal angkot tempat aku mangkal,tanpa risih dia menyalamiku,memelukku erat sambil,cerita masa masa kecil dulu,aku yang bandel,sering berantem,nilaiku yang sering dapat 0 untuk semua mata pelajaran,dan aku cuma bisa tersenyum,sambil ku hisap nikmat rokok pemberian Sobari.
Kuajak senyum tembok,angkot,bus antar kota,kadang bernyanyi kecil nggak jelas

....ketidak warasan padaku,membuatku membuat bayangmu selalu ada menentramkan malamku,mendamaikan tidurku.
Ketidakwarasanku padaku,membuat hidupku lebih tenang,aku takkan sadari bahwa kau tak lagi disini...