Entah dari kapan aku begini,suara suara yang kerap muncul di kepala,mengajakku tertawa,kadang memarahiku,kadang menasehatiku,berganti ganti setiap hari,membuatku bingung siapakah mereka,setia sekali menemani,bahkan sampai terbawa mimpi.
Terkadang selepas lalu aku masih ingat belaian simbok sewaktu kecil,samar samar dia membelai kepalaku sambil berbisik,"sing eling yo ngger,ojo ngamuk terus,pae karo mae yo dadi wedi,po meneh tonggo ngarep mburi,do mlayu kabeh,nek kowe ngamuk karo ngromed dewe ra' karuan.
Ya waktu itu Ayah dan simbokku Masih ada,mereka setia merawatku,memandikanku,memberi makan,bahkan tidak mau sama sekali memasungku seperti usulan warga kamapung,kata Ayahku kayak wedus aja di kerangkeng,dan di pasung,gini gini juga anak manusia,masih punya harga diri,biasanya Simbok cuma duduk ndlempes di pinggir pintu sambil matanya mbrebes mili.
Ayah sempet bawa aku kerumah sakit jiwa,sebulan disana aku dirawat,ya lumayan sembuh aku nggak pernah denger suara suara itu lagi,begitupun setelah pulang kerumah aku terus rajin minum obat,dan bener bener sembuh,ayah simbokku, seneng sekali,aku udah bisa mandiri,ngurus sawah,ngurus kerbau,kambing,angon bebek,hingga akhirnya ketemu jodoh.
Jodoh ya jodoh,Suminah namanya,gadis dari kampung sebelah,sewaktu aku nikah hajatnya terdengar sampai ke seluruh penjuru desa,"Sapardi bekas wong edan wis mari saiki arep kawin."
Bapak nyembelih kerbau satu,kambing tiga,pokoknya rame sekali waktu itu,sebulan setelah nikah Suminah hamil,tambah seneng aku dan keluargaku,aku makin tambah waras,bahkan konsumsi obat obatan sudah mulai dikurangi,tapi rupanya itu adalah awal dari rencana lain dari Tuhan,yang juga jadi awal bencana,usia kehamilan 4 bulan suminah pendarahan,keguguran dan tidak tertolong.
Aku benar benar limbung,bingung,sedih,marah,menjadi satu,suara suara itu muncul lagi,bahkan menjelma menjadi seseorang yang kerap kali mengikuti,seseorang itu kerap kali memprovokasi,bahwa Tuhan tidak adil,Tuhan itu jahat,dan kerap sekali menyuruhku memukul bahkan kalau perlu membunuh siapa aja yang mendekatiku,hingga pada puncaknya,aku bakar seluruh rumahku yang baru setengah jadi,aku hancurkan semuanya,sampai seluruh warga memegangiku lalu membawaku kerumah sakit jiwa,satu tahun setengah aku di rawat,sampai habis seluruh harta Bapak sama simbokku,tapi aku belum sembuh total,tapi sudah lumayan sadar,meski kadang suka perih dan sedih hati ini,jika teringat suminah istriku,dan jabang bayinya,sampai akhirnya bapak sama simbokku meninggal, aku masih suka keluyuran sendiri,meski sudah tidak ngamuk lagi.
Hanya senyum yang bisa aku lakukan,kadang tertawa bebas sambil lari lari mengejar anak anak kampung,dulu mereka suka ketakutan,tapi karena tahu aku cuma pingin bermain,lambat laun mereka tidak takut bahkan kadang suka kasih makanan,terkadang orang tuanya memberi,sebatang dua batang rokok.
Aku tidak pernah kelaparan,karena ada saja tetangga yang baik memberi makan juga rokok,jika lebaran tiba, terkadang ada beberapa teman SD ku,yang baru dari perantauan memberi rokok dan uang tanpa diminta.
Dari sekian banyak teman SD ku hanya Sobari yang paling kuingat,sehabis lebaran pasti dia menghampiriku ke terminal angkot tempat aku mangkal,tanpa risih dia menyalamiku,memelukku erat sambil,cerita masa masa kecil dulu,aku yang bandel,sering berantem,nilaiku yang sering dapat 0 untuk semua mata pelajaran,dan aku cuma bisa tersenyum,sambil ku hisap nikmat rokok pemberian Sobari.
Kuajak senyum tembok,angkot,bus antar kota,kadang bernyanyi kecil nggak jelas
....ketidak warasan padaku,membuatku membuat bayangmu selalu ada menentramkan malamku,mendamaikan tidurku.
Ketidakwarasanku padaku,membuat hidupku lebih tenang,aku takkan sadari bahwa kau tak lagi disini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar